Sengketa Kepulauan Falkland/Malvinas antara Inggris dan Argentina

[Tugas Makalah Mata Kuliah: Hukum Internasional]

SENGKETA PEREBUTAN KEPULAUAN FALKLAND/MALVINAS ANTARA INGGRIS DAN ARGENTINA (1982)


Disusun Oleh :

HENDRA HERAWAN HUZNA

0401111553

HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS RIAU

PEKANBARU

2009

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan pada penulis sehingga penulis dapat mengerjakan penulisan makalah ini. Hanya dengan Kuasa dan Izin dari-Nya penulis memperoleh sesuatu hal yang berharga dalam kehidupan penulis pribadi secara khususnya dan pembaca pada umumnya demi kebaikan kita bersama.

Tidak lupa pula penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Nabi Besar Muhammad SAW, Nabi junjungan ummat Islam di seluruh dunia yang telah membawa dunia ini dengan segala pemikirannya dari pemikiran persis pada zaman kegelapan kepada pemikiran dimana pola pemikiran ummat mendapatkan penerangan dan kemajuan jaman.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ahmad Jamaan dan Ibu Yuli Fachri yang telah menuntun dan mengarahkan penulis dalam penulisan makalah ini.

Dalam berbagai hal, “tidak ada segala sesuatu yang sempurna” adalah sebuah ungkapan sangat dijunjung penulis. Sehingga penulis mengajak pembaca agar dapat memahami apabila terjadi kesalahan dan kekurangan dalam penulisan makalah ini. Penulis sangat membutuhkan saran, kritikan dan masukan yang sifatnya membangun baik bagi penulis secara pribadi dan pembaca pada umumnya.

Pekanbaru, 22 Januari 2009

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Kepulauan Falkland pada awalnya diperebutkan Inggris dan Spanyol selama bertahun-tahun. Sampai pada 1816, terjadi perkembangan baru di Amerika Selatan. Argentina menyatakan merdeka dari jajahan Spanyol, dan membuat batas wilayah negaranya sampai ke Kepulauan Falkland. Jadilah kini, Inggris yang berseteru dengan Argentina memperebutkan kepulauan di Amerika Selatan itu.

Perebutan itu terus berlangsung selama bertahun-tahun. Bahkan Argentina berhasil memasukkan masalah klaim kepulauan itu ke Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Pada 1965, PBB mengeluarkan Resolusi 2065 yang menyebutkan perlunya penyelesaian masalah itu, dengan memperhatikan kepentingan penduduk yang ada di kawasan tersebut.

Pulau Malvinas ditemukan pada tahun 1832 oleh orang-orang Inggris dan menjadi salah satu koloni Inggris. Argentina sendiri selalu mengklaim bahwa Malvinas adalah bagian dari kawasan negaranya. Dengan alasan inilah, Aregentina menyerbu Pulau Malvinas pada tahun 1982. Tindakan Argentina ini tidak diterima oleh Inggris. Tentara Kerajaan Inggris kemudian dikirim ke kawasan itu dan terjadilah pertempuran di antara keduanya. Kecanggihan militer Inggris akhirnya mengantarkan tentara negara itu meraih kemenangan dan mengusir tentara Argentina dari Malvinas. Meskipun secara militer Argentina telah kalah, Bounes Aires masih melakukan langkah-langkah diplomasi untuk memiliki pulau tersebut.

  1. Perumusan Masalah

Penulisan makalah ini diarahkan untuk memahami pertikaian dan pengketaan yang terjadi antara Inggris dan Argentina mengenai kepulauan Falkland (versi Inggris) atau Malvinas (versi Argentina). Pada tahun 1982, Argentina di bawah kepemimpinan junta militer Galtieri mengagresi dan menguasai kepulauan Falkland dari tangan Inggris melalui serangan pasukan Argentina yang berasal dari kesatuan marinirnya. Inggris menyebut tindakan yang dilakukan oleh Argentina tersebut sebagai “agresi yang memprovokasi”, saat itu juga Iggris memutuskan hubungan diplomatik kedua Negara dan menyerukan kepada Argentina untuk segera keluar dari kepulauan Falkland yang telah dikuasai Inggris sejak tahun 1833 walaupun Argentina mengklaim sebagai wilayahnya sejak kemerdekaanya tahun 1816.

Perang pun meletus. Perang ini membuat banyak kerugian bagi Argentina, banyak peralatan perang mereka yang hancur, juga korban tewas dari pasukannya. Dan, di pihak militer Inggris juga tidak sedikit yang tewas. Akhir dari perang adalah kemenangan bagi Inggris, dan terusirnya Argentina dari kepulauan Falkland, hubungan diplomatik Inggris – Argentina yang terputus dinormalisasi tahun 1994. Kemudian tinjauan umum mengenai analisis hukum Internasional yang mengatur tentang konflik antara Inggris dan Argentina akan disampaikan dalam makalah ini. Penulis juga memberi contoh-contoh konkrit yang dihadapi oleh kedua negara ini dan dampak peperangan yang terjadi, dan hubungannya dengan kajian persfektif hukum internasional agar dapat dipahami secara detail.

Berdasarkan latar permasalahan tersebut, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut: Apa yang menyebabkan Inggris dan Argentina harus berperang untuk memperebutkan pulau Falkland/Malvinas?

  1. Tujuan Penelitian

    Penyusunan makalah ini bertujuan untuk:

  • Untuk mengetahui mekanisme peperangan yang terjadi di kepulauan Falkland yang telah banyak merenggut korban jiwa
  • Mengetahui dampak yang ditimbulkan dari peperangan bagi kedua negara dan kepulauan Falkland itu sendiri
  1. Manfaat Penelitian
  • Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin meneliti lebih lanjut dalam aspek yang sama maupun aspek yang berhubungan
  • Bagi penulis sendiri, untuk mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan penulis dalam Mata Kuliah Hukum Internasional yang telah dipelajari pada masa perkuliahan

  1. Sistematika Penulisan

    Adapun sistematika penulisan adalah sebagai berikut:

BAB I    : PENDAHULUAN

Pendahuluan berisikan latar belakang, perumusan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II    :    PEMBAHASAN

Dalam bab ini dijelaskan pembahasan mengenai peperangan yang terjadi di kepulauan Falkland dana sebab-akibat dari peperangan tersebut serta hubungannya dengan hukum internasional.

BAB III :    KESIMPULAN

Dalam bab ini merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan mengenai perang yang terjadi di kepulauan Falkland dan beberapa saran berharga yang kemungkinan dapat dijadikan bagi pihak-pihak yang berkepentingan

BAB II

PEMBAHASAN

Kepulauan Falkland adalah sebuah wilayah luar negeri Britania Raya Samudra Atlantik Selatan yang terdiri dari dua pulau utama, Falkland Timur dan Falkland Barat, serta beberapa pulau kecil. Ibu kotanya, Stanley, terletak di Falkland Timur. Kedaulatan kepulauan ini dipertentangkan oleh Argentina yang menamakannya Islas Malvinas dalam bahasa Spanyol. Nama itu diambil dari bahasa Perancis Iles Malouines yang berasal mula ketika nelayan dari St Malo menduduki Falkland pada masa yang singkat. Kepulauan Falkland digolongkan oleh Komite Dekolonisasi PBB sebagai salah satu dari 16 Wilayah Jajahan di dunia. Kepulauan Falkland terletak 483 km dari daratan Amerika Selatan. Dia terdiri dari dua pulau utama, Falkland Timur dan Falkland Barat , dan sekitar 700 pulau-pulau kecil. Luas wilayah daratan sebesar 12.173 km² dengan panjang garis pantai ±1.288 km.

2.1 Sejarah Kepulauan Falkland

Pada abad ke-18, Louis de Bougainville asal Perancis mendirikan pangkalan angkatan laut di Port Louis, Falkland Timur pada 1764. John Byron asal Britania, yang mengabaikan kehadiran Perancis, juga mendirikan pangkalan di Port Egmont, Falkland Barat pada 1765. Pada 1766, Perancis menjual pangkalannya ke Spanyol. Spanyol kemudian menyatakan perang terhadap Britania Raya pada 1770 untuk memperebutkan seluruh wilayah kepulauan. Perselisihan tersebut berhasil diselesaikan setahun kemudian, dengan Spanyol menguasai Falkland Timur dan Britania Raya menguasai Falkland Barat. Semasa penyerbuan Britania di Rio de la Plata, Britania mencoba untuk merebut Buenos Aires pada 1806 dan 1807, namun gagal.

Masalah ini sebenarnya belum terselesaikan hingga abad ke-19. Untuk merebut Falkland, Argentina mendirikan koloni hukum pada 1820, dan pada 1829 melantik Luis Vernet sebagai gubernur. Britania Raya kembali merebut kepulauan itu pada 1833, namun Argentina tidak mau melepas klaimnya. Sejumlah ketegangan menyebabkan Argentina menyerbunya pada 1982. Namun Britania Raya kembali berhasil merebutnya. Tidak ada orang pribumi yang tinggal di Falkland ketika bangsa Eropa datang, walaupun ada beberapa bukti yang diperdebatkan mengenai kedatangan manusia sebelumnya. Namun, bukti otentik dan fakta nya tidak kredibel.

Kemerdekaan yang diraih provinsi-provinsi jajahan Spanyol di Amerika Latin pada 1816, ternyata berbuntut panjang. Argentina, sebagai negara yang baru terbentuk, selanjutnya giat mengumpulkan pulau-pulau bekas jajahan Spanyol yang dianggap layak masuk ke wilayah kedaulatannya. Di antaranya adalah Las Malvinas yang juga diklaim milik Inggris. Pertikaian demi pertikaian pun meletus dan mencapai puncaknya pada April 1982 (perang Falkland/Malvinas).

2.2 Pemerintahan Kepulauan Falkland

Otoritas eksekutif berada di bawah wewengan Ratu dan menjadi mandat gubernur. Pertahanan dan keamanan merupakan tanggung jawab Britania Raya. Sebuah konstitusi disusun pada 1985. Delapan orang Dewan Legislatif dipilih setiap empat tahun. Dewan Eksekutif yang menasihati Gubernur terdiri dari Kepala Eksekutif, Sekretaris Finansial dan tiga Dewan Legislatif. Dewan Eksekutif dipimpin oleh Gubernur. Dewan Legislatif terdiri dari Kepala Eksekutif, Sekretaris Finansial dan delapan Dewan Legislatif.

Kekalahan Argentina dalam perebutan Falkland mengakibatkan runtuhnya kekuasaan diktator militer Argentina pada 1983. Pertentangan mengenai kontrol kepulauan tersebut masih berlangsung hingga kini. Pada 2001, Perdana Menteri Britania Tony Blair menjadi tokoh Britania pertama yang berkunjung ke Argentina sejak perang terjadi. Pada peringatan perang ke-22, Presiden Argentina Nestor Kirchner berpidato dengan salah satu topiknya mengenai keyakinan bahwa Kep. Falkland suatu saat akan menjadi milik Argentina. Selama menjabat sebagai presiden pada 2003, Kirchner menjadikan kepulauan tersebut sebagai prioritas utamanya. Pada Juni 2003, isu tersebut menjadi pembicaraan sebuah komite PBB, dan berbagai langkah telah ditempuh untuk membuka pembicaraan dengan Britania untuk menyelesaikan masalah ini. Penduduk Falkland tetap melihat diri mereka sebagai warga negara Britania.

Kepulauan Falkland atau Malvinas adalah rangkaian pertempuran laut yang paling besar dan panjang sejak perang Pasifik di masa Perang Dunia II. Perang yang disebut Operasi “bersama” olehInggris, berlangsung selama lima bulan, dan melibatkan operasi-operasi amfibi yang terpenting sejak pendaratan Incheon pada 1950, saluran pipa logistik sepanjang lebih dari 10.000 km, dan daerah pertempuran musim dingin yang jauhnya 5.300 km. dari pangkalan bersahabat terdekat dekat Pulau Ascension.

2.3 Awal Peperangan

Klaim Argentina atas Kep. Falkland (yang disebutnya Malvinas), didasarkan semata-mata pada kedekatan ke daratan Argentina dan apa yang disebutnya sebagai “warisan” kedaulatan dari pemerintahan Spanyol yang gagal pada 1810. Klaim ini mempunyai makna emosional penting bagi rakyat Argentina, dan telah selama beberapa generasi menjadi bagian kurikulum sejarah di sekolah negeri. Motivasi sesungguhnya bagi invasi Argentina pada April 1982 itu lebih disebabkan oleh ancaman yang dirasakan oleh junta militer Jenderal Leopoldo Galtieri yang berkuasa: ketidakstabilan internal di Argentina yang mengancam pemerintahan diktaturnya. Galtieri membutuhkan pengalihan perhatian yang mempersatukan, konflik luar untuk mengalihkan publik dan mempertahankan kontrol di dalam negeri.

Pada 19 Maret 1982, Argentina membuka konflik dengan mendaratkan 30 kapal rongsokan di Pulau Georgia Selatan dan mengibarkan bendera Argentina. Provokasi Argentina ini adalah untuk memancing perhatian tentara Inggris yang ada di Falkland. Pertahanan di Falkland terdiri dari 79 marinir Inggris dan 120 pertahanan sipil. Tentara Inggris di Falkland segera memakan umpan strategi Argentina dengan mengirim satuan tugas ke Georgia Selatan esoknya. 22 marinir dan seorang letnan dikirim kesena dengan kapal HMS Endurance dari Port Stanley/Puerto Argentino. Mereka diperintahkan untuk mengusir kapal-kapal perang Argentina itu kembali ke Argentina. Endurance tiba pada 23 Maret dan para marinir itu mendarat.

Dengan alasan meyelamatkan kapal-kapal mereka, Argentina mendaratkan 100 pasukannya ke Georgia Selatan pada 26 maret. Pengalihan serangan Argentina ke Georgia selatan menjadi alasan Argentina untuk menyerang seluruh Falkland. Pada subuh 2 april 1982 hari jumat sekitar 4500 pasukan Argentina yang terdiri dari angkatan laut, darat dan udara menyerang Puerto Argentino/Port Stanley. Pertahanan Falkland dengan ibukota Port Stanley diserbu dan diduduki pasukan Argentina dan akhirnya gubernur Inggris di kepulauan tersebut Rex Hunt menyerah pada Argentina.

Pengalihan serangan ke Georgia Selatan oleh Argentina merupakan kejutan, dan memberikan alasan bagi invasi 2 April di Pulau Falkland Timur dan direbutnya Stanley. Pasukan-pasukan tambahan Argentina tiba secara teratur dan dalam tempo 24 jam lebih dari 4000 pasukan Argentina mendarat di pulau-pulau itu.

Penguasa Argentina mengungsikan warga negara Inggris yang mendiami Falkland  ke kedutaan besar Inggris dengan pesawat ke sebuah negara Amerika latin . Argentina mengangkat Jenderal Benyamin Mendez sebagai gubernur militer di Falkland. Reaksi Inggris setelah invasi Argentina ke Falkland adalah memutuskan hubungan diplomatiknya pada hari itu juga-2 april 1982.

Pada 12 April, Inggris mengumumkan Zona Eksklusif Maritim 200 mil di sekitar pulau-pulau itu, dengan maksud memperlemah pasokan Argentina dan upaya-upaya memperkuat pasukannya. Tiga kapal selam penyerang nuklir Inggris memperkuatnya sampai tibanya gugus tugas atas air tiga minggu berikutnya. Sementara kapal-kapal selam itu terus melakukan operasi-operasi blokade sementara, 65 kapal Inggris dikirim ke Falklands pada akhir April: 20 kapal perang, 8 kapal amfibi, dan 40 kapal logistik dari Pasukan Tambahan Angkatan Laut Kerajaan dan Angkatan Laut Perdagangan.

Gugus tugas Inggris membawa 15.000 orang, termasuk kekuatan pendaratan yang terdiri atas 7000 Marinir Kerajaan dan tentara. Kapal-kapal logistik membawa bekal untuk pertempuran selama sekitar tiga bulan. Akhirnya, pada 25 April, sebuah kelompok aksi atas air Inggris yang terdiri atas dua kapal perusak, enam helikopter dan 230 pasukan menaklukkan pasukan pengawal Argentina yang jumlahnya 156 orang di Georgia Selatan.

Gugus tugas AL Kerajaan Inggris tiba di timur Falkland pada1 Mei. Rencananya adalah membangun keunggulan laut dan udara dengan memikat kapal-kapal perang dan pesawat-pesawat Argentina keluar dari daratan dan menghancurkan mereka, diikuti dengan pendaratan amfibi di Stanley. Dua kapal selam penyerang Inggris ditempatkan di utara Falklands untuk mengamati kapal-kapal Inggris dalam menghadapi gugus tugas AL Argentina yang utama dan kapal induk Veinticinco de Mayo, yang telah beroperasi di wilayah itu sejak 20 April.

Kapal selam ketiga ditempatkan di selatan Falkland untuk memantau Exocet yang dipasang di kapal penjelajah Argentina General Belgrano dan dua kapal perusak yang mendampinginya. Kapal selam Inggris HMS Conqueror mentorpedo dan menenggelamkan General Belgrano, yang kehilangan 368 dari 1042 awaknya. Gugus tugas Argentina di utara kembali ke pangkalan dan tetap tinggal di sana hingga perang berakhir. De Mayo menurunkan pesawat-pesawat A-4nya yang beroperasi dari pangkalan-pangkalan lepas pantai hingga perang usai.

Serangan udara dari pangkalan-pangkalan di Argentina terhadap kapal-kapal Inggris sering terjadi selama perang. Meskipun memiliki pertahanan AAW (“anti-air warfare” – peperangan anti serangan udara) yang canggih serta menggunakan Sea Harriers yang cukup sukses dalam pertahanan udara ke udara, AL Inggris hanya bertahan dalam menghadapi kekuatan udara Argentina. Serangan pesawat Argentina menghantam sekitar 75 persen dari kapal-kapal Inggris dengan bom.

Namun hanya tiga kapal perang Inggris (satu perusak dan dua fregat) serta dua kapal pendarat yang tenggelam atau rusak berat oleh bom. Kapal-kapal Inggris lainnya yang tenggelam, satu kapal perusak (HMS Sheffield) dan satu kapal pemasok, dihantam oleh misil Exocet. AL Inggris berhasil menghancurkan lebih dari setengah dari 134 pesawat tempur Argentina selama perang dengan menggunakan kombinasi perang listrik, Harriers, misil darat ke udara, dan artileri anti pesawat udara.

Perang diakhiri dengan menyerahnya Argentina pada 14 Juni 1982, setelah tiga minggu operasi amfibi Inggris dan operasi darat mereka di Pulau Falkland Timur. Senin 14 Juni pukul 21.00 waktu setempat (Selasa pagi waktu Indonesia) pasukan Argentina menyerah di Port Stanley, setelah 74 hari menguasai kepulauan tersebut. Brigjen Mario Benjamin Menendez, Panglima Pasukan Argentina di Malvinas yang pernah bersumpah akan bertahan “sampai prajurit dan peluru yang terakhir”, menandatangani pernyataan menyerah Senin malam itu. Segera setelah itu Panglima Pasukan Inggris yang memimpin penyerbuan ke Malvinas Mayjen Jeremy Moore mengirim kawat ke PM Margaret Thatcher: “Kepulauan Falklands kembali berada di bawah pemerintahan Inggris seperti dikehendaki penduduknya. God save the Queen.”

Tiga posisi pertahanan Argentina sehari sebelumnya telah jatuh: Tumbledown Mountain dan Mount William di sebelah barat daya kota dan Wireless Ridge di barat laut. Tinggal “Lini Galtieri” yang merupakan garis pembelaan Port Stanley terakhir, yang dipertahankan sekitar 7.000 tentara Argentina. Sambil melemparkan granat, pasukan payung dan pasukan komando Inggris bergerak maju dari berbagai posisi mereka, mengepung Argentino dan selama beberapa hari dihujani tembakan dari laut, mortir dan artileri, yang sudah terkepung rapat.

Banyak tentara Argentina yang dilaporkan melemparkan senjata mereka dan lari mundur. Menjelang senja, bendera-bendera putih terlihat dikibarkan dari bangunan-bangunan kayu di sekeliling kota pelabuhan tersebut. Pertempuran telah berakhir. Kemenangan ini disambut gembira di Inggris. Ratu Elizabeth II, yang putranya Pangeran Andrew, 22 tahun, bergabung dalam satgas ke Malvinas sebagai pilot helikopter, menyatakan “gembira dan lega”.

PM Thatcher mempertimbangkan untuk mengunjungi Malvinas. Maksud dan tujuan mengunjuni pulau tersebut adalah untuk memanfaatkan kemenangan yang mengangkat tinggi popularitasnya ini untuk kepentingan politiknya. Mengenai masa depan Malvinas, Thatcher telah mengisyaratkan: pemerintahan sendiri tampaknya merupakan penyelesaian jangka panjang terbaik. Namun Inggris juga menghadapi masalah: 11 ribu pasukan Argentina yang menyerah (banyak di antaranya sakit dan kelaparan) jelas merupakan beban.

Perang yang menewaskan 243 tentara Inggris dan 420 tentara Argentina (menurut pengumuman resmi, walau diduga lebih banyak lagi yang tewas) menimbulkan guncangan lebih hebat di Argentina. Protes terhadap kekalahan di Malvinas berubah menjadi protes pada rezinl militeryang berkuasa. Kekalahan di Malvinas memang telah mengakhiri dukungan populer rakyat kepada junta militer Argentina yang telah berkuasa selama 6 tahun terakhir. Tatkala Presiden Galtieri melancarkan serbuan dan menduduki Malvinas 2 April lalu, sekonyong-konyong Argentina yang terpecah belah seakan bersatu. Galtieri, 55 tahun, mendadak dianggap pahlawan bangsa. Puluhan ribu orang berteriak menyebut namanya dalam suatu demonstrasi dukungan rakyat segera setelah tentara Argentina menduduki Malvinas.

Kini situasi berbalik. Galtieri, yang memerintahkan Brigjen Menendez menyerah, dianggap sebagai pengkhianat bangsa. Letjen Leopoldo Fortunato Galtieri malahan kehilangan dukungan para rekannya. Selasa malam, sehari setelah tentara Argentina di Malvinas menyerah, para jenderal yang berkuasa memutuskan untuk mengganti Galtieri. Ia diberi pilihan: mengundurkan diri atau didepak ke luar. Galtieri, yang menjabat presiden selama 6 bulan, memutuskan mundur sebagai Panglima AD dan Presiden.

Selesainya perang di Malvinas mengembalikan Argentina kepada situasi dalam negeri yang sulit, yang kini mungkin lebih parah. Keadaan ekonomi: inflasi mencapai 131%, angka pengangguran 13% dan resesi ekonomi dunia yang memukul hebat industri dalam negeri, jelas menghantam negara yang berpenduduk sekitar 36 juta tersebut. Kekalahan Argentina akhirnya membuat presiden Argentina Jenderal Leopold Galtieri mengundurkan diri sebagai panglima AD dan presiden. BBC mengomentari pengunduran diri itu “orang yang memulai perang di Falkland menjadi korbannya yang paling akhir“.

2.2 Kekuatan Militer yang digunakan pada perang

  1. Kekuatan Militer Argentina
  • Kekuatan Angkatan Darat Argentina 130.000 personil dan 90.000 wajib militer;
  • Angkatan Laut 36.000 personil (wajib militer 18.000)bersama 185 Tank
  • Angkatan Udaranya 19.500 personil dengan 10.000 wajib militer
  • 4 kapal selam, 1 kapal induk, 1 kapal penjelajah
  • 9 kapal perusak, 6 penyapu ranjau , 10 kapal patroli
  • 11 pesawat tempur serta 19 helikopter
  • 9 pembom ,dan 145 pesawat tempur

Argentina mengoperasikan beberapa tipe pesawat tempur salah satunya adalah pesawat-pesawat tempur Mirage tipe Dagger buatan Isarel. Mirage sebenarnya buatan Prancis, tetapi diproduksi Isarel tanpa izin akibat embargo persenjataan oleh Prancis.  Embargo persenjataan ke Israel itu, disebabkan Insiden peledakkan pesawat sipil di bandar udara Lebanon yang dilakukan oleh agen Mossad Israel pada akhir 1970-an sebagai pembalasan peristiwa “Black September”, dimana atlet Olympiade Israel dibunuh oleh “gerilyawan PLO” di Munich, Jerman Barat. Juga digunakan rudal exocet buatan Prancis yang berperan besar dalam peperangan ini.

  1. Kekuatan Militer Inggris
  • Angkatan darat 176.248 personil 1414 tank
  • Angkatan laut 74.687 personil dengan 32 kapal selam
  • Angkatan udara 92.701 personil dengan 132 pembom berat dan 325 pesawat tempur
  • 2 kapal induk, 14 perusak, 46 fregat, 38 penyapu ranjau, 25 kapal patroli
  • 20 pesawat tempur serta 90 helikopter
  • Jarak Inggris dan Falkland adalah 11.365 km

Kekuatan armada Inggris yang digunakan dalam perang Falkland, mencapai 65 kapal perang dengan 2 kapal induk HMS Invicible dan HMS Hermes. Jumlah yang sedikit bila dibandingkan konsentrasi armada kapal perang Amerika di laut tengah, 52 kapal perang dengan 4 kapal induk kelas tempur. Ataupun armada soviet di Asia pada tahun 82 atau dekade 80an dengan hampir 500 unit Angkatan laut modern, dengan 44 kapal tempur utama berpeluncur rudal, 151 kapal selam 74 diantaranya bertenaga nuklir.

2.3 Perselisihan Berlanjut

Pada tahun 2003 (19 tahun setelah perang Falkland), Argentina kembali mempermasalahkan keabsahan pulau Malvinas adalah milik Inggris. Argentina (walaupun telah kalah dalam perang), tetap ngotot ingin menjadikan pulau tersebut adalah milik kedaulatan negaranya. Klaim Argentina terhadap Kepulauan Malvinas yang menyebabkan perang dengan Inggris tetap merupakan prioritas kebijaksanaan yang tinggi bagi Argentina, kata Menteri Luar Negeri Argentina, Rafael Bielsa.

Berbicara kepada Komite Dekolonisasi PBB, Bielsa mengatakan, pemerintah Inggris harus berhenti bersembunyi di belakang perang tahun 1982 itu untuk menghindari perundingan mengenai isu kedaulatan pulau tersebut. Inggris menyebut kepulauan itu sebagai Kepulauan Falklands dan berhasil mempertahankannya lewat perang tahun 1982 yang dimenangkannya. Merebut kembali kedaulatan kepulauan itu merupakan “tujuan tak bisa disisihkan bagi rakyat Argentina,” kata Bielsa dalam persidangan yang khusus disediakan bagi gugusan pulau Atlantik Selatan.

Bielsa menyampaikan kasus tersebut untuk dibahas PBB menyangkut isu-isu kedaulatan tiga pekan setelah kursi kepresidenan diisi oleh Nestor Kirchner, yang lama menjadi gubernur Provinsi Santa Cruz, Argentina selatan. Sebelum akhirnya jatuh ke tangan Inggris, provinsi itu memiliki hubungan erat dengan Malvinas melalui perikanan dan perdagangan. Malvinas terletak sekitar 550 km lepas pantai Argentina, mulai dikuasai Inggris pada tahun 1833.

Perang Malvinas dilancarkan pemerintahan militer Argentina, guna menghimpun kembali kekuatannya. Bielsa mengatakan, pemerintahnya tidak bisa menerima alasan Inggris yang berpegangan pada perseteruan London dengan pemerintahan militer Argentina waktu itu, untuk menghindari perundingan menyangkut isu kedaulatan Malvinas. Ketika perang, PM Margareth Thatcher dibantu secara politis oleh Presiden AS, Ronald Reagan. Komite Dekolonisasi PBB diharapkan akan menyetujui sebuah rancangan resolusi menyangkut perseteruan tersebut yang meminta dimulainya kembali perundingan-perundingan yang akan menyelesaikan persengketaan secara damai.

Pasca perang yang dimenangi Inggris, PM Tony Blair adalah PM Inggris pertama yang mengunjungi Argentina sejak perang. Negara-negara Amerika Latin, termasuk anggota komite Bolivia, Venezuela dan Kuba, teguh di belakang tuntutan Argentina tersebut. Pekan lalu, Majelis Umum Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) mengeluarkan pernyataan solidaritasnya dengan Argentina dalam hal tuntutan terhadap Malvinas. OAS menyerukan kepada Inggris dan Argentina untuk membuka kembali perundingan menyangkut persoalan itu sesegara mungkin.

Pada tahun 2007, pemerintah Buenos Aires kembali mengklaim bahwa kepulauan di Atlantik Selatan itu bagian dari kedaulatannya. Menlu Argentina Jorge Taiana menegaskan, pemerintahnya ingin merebut kembali Malvinas yang disebutnya telah diserobot oleh Inggris. Ambisi Argentina untuk mengklaim kepemilikan Malvinas memanaskan hubungan negara Amerika Selatan itu dengan Inggris. Karena 26 tahun lalu, kedua negara mengobarkan perang selama 74 hari dengan kemenangan di pihak Inggris.

Pada saat itu juga, Jorge Taiana menyatakan bahwa Inggris telah berikap arogan dengan mengadakan parade kemenangan militer untuk memperingati perang tersebut. “Apa yang mereka ingin lakukan bukanlah apa (PM Tony Blair) sebut satu peringatan, tapi satu parade kemenangan militer, satu sikap arogan,” katanya.

Argentina secara sepihak membatalkan perjanjian bilateral eksplorasi minyak dengan Inggris dan mengumumkan sanksi-sanksi terhadap perusahaan-perusahaan yang mengeksplorasi di daerah yang disengketakan itu. Tidak ada lagi yang mempersatukan rakyat Argentina seperti ysng terjadi pada perang Falkland. Pada tahun 1982, Argentina dikuasai rejim militer sayap kanan, yang menyerang kepulauan itu untuk mengalihkan perhatian dari ekonomi yang merosot dan pelanggaran hak asasi manusia.

Dekolonialisasi Majelis Umum PBB (MU PBB) menuduh Inggris sengaja menghambat proses dialog secara terbuka untuk menentukan status Malvinas. Seperti diketahui, perang Malvinas berakhir pada 14 Juni 1982 setelah pasukan Argentina ditarik mundur namun Argentina tidak pernah secara resmi melepas kepulauan itu kepada Inggris. “Kengototan Inggris selama ini menghalangi dimulainya proses dialog yang terbuka dan jujur antara kedua negara. Argentina beberapa kali menawarkan untuk membuka negosiasi, namun Inggris menolaknya,” tegas Jorge. Perselisihan mengenai Malvinas itu sudah yang ke sekian kalinya membuka ‘perang’ kedua negara di PBB, bahkan Presiden Argentina Nestor Kirchner pekan lalu menegaskan Kepulauan Malvinas adalah milik mereka dan harus kembali menajdi milik Argentina.

Meski tidak menegaskan apakah upaya merebut Malvinas akan dilakukan dengan upaya terakhir (perang), Kirchner masih mengatakan pihaknya masih menempuh cara damai. “Perang itu merupakan kemenangan penjajah, karena itu Argentina masih memiliki legitimasi atas wilayah Malvinas. Saya mengatakan kepada Margareth Thatcher (PM Inggris waktu itu) bahwa Inggris memenangkan perang (1982) karena ia memiliki kekuatan besar. Namun ia tidak pernah mengalahkan Argentina dengan kekuatan akal atau keadilan,” katanya. Sementara Jorge menjelaskan bahwa Argentina berkeras menyelesaikan perselisihan mengenai kepemilikan Malvinas karena klaim Inggris di sana sangat mengganggu perjanjian mengenai batas teritorial, isu keamanan perairan dan hak pencarian ikan.

Secara bersamaan, MU PBB mendesak Argentina dan Inggris memantapkan proses dialog dan kerjasama melalui upaya negosiasi guna menemukan solusi damai secepatnya. Dalam resolusi yang disponsori Bolovia, Chile, Kuba dan Venezuela, MU PBB juga mendesak agar pembicaraan Argentina dan Inggris melibatkan semua aspek. Namun mewakili penduduk Inggris di Malvinas, atau Falklands, Richard Davies yang juga anggota Dewan Legislatif  Falklands, justru menanggapi dingin imbauan MU PBB dan tuntutan Argentina itu.

Penduduk pulau itu menolak keras upaya negosiasi, pemimpin Argentina sengaja mengaitkan pulau itu sebagai bagian dari wilayah di abad pertengahan guna mengalihkan perhatian orang atas kegagalan di dalam negeri,” kata Davies. Falklands tidak berminat menjadi bagian dari negara Argentina. Setelah 25 tahun, kami tetap meghormati pengorbanan para tentara Inggris yang membebaskan kami,”.

BAB III

KESIMPULAN

Karena meremehkan “Wanita Besi” dan Rudal Exocet,
“Perang (Malvinas/Falkland) itu ibarat dua orang gundul
yang memperebutkan sisir.”

(Jorge Luis Borges, penulis Argentina)

Mungkin saja pernyataan pengarang Argentina tersebut benar. Artinya, lebih-lebih dalam konteks sekarang, orang bisa bertanya, “Untuk apa sih sebenarnya Inggris dan Argentina sampai harus berperang memperebutkan Kepulauan Falkland (menurut Inggris) atau Malvinas (menurut Argentina). Akan tetapi, terhadap sejarah kita diingatkan, tidak ada kata “seandainya”. Faktanya, perang ini akan dikenang sebagai perang yang mengandung pertempuran laut paling besar dan paling panjang semenjak kampanye Pasifik di masa Perang Dunia II.

Perang yang oleh Inggris disebut dengan nama Operation Corporate ini juga melibatkan operasi amfibi paling besar semenjak pendaratan Inchon pada tahun 1950. Juga penyelenggaraan logistik sejauh 11.000 km dari Inggris ke Atlantik Selatan, medan tempur musim dingin yang jauhnya sekitar 5.000 km dari pangkalan sahabat terdekat di Pulau Ascension.

Argentina menyerbu Malvinas/Falkland karena mengklaim kepulauan ini sebagai miliknya. Selain dekat dengan wilayah utama (mainland), juga karena merasa pihaknya merupakan pewaris kedaulatan dari Pemerintah Spanyol yang gagal pada tahun 1810 dan menyebabkan kepulauan itu lalu dikuasai Inggris. Klaim ini merasuk ke dalam sanubari rakyat Argentina dan masuk dalam kurikulum sejarah di sekolah dari generasi ke generasi. Ini sebenarnya juga isu yang umum semenjak berakhirnya Perang Dunia II, yaitu satu negara berkembang mengajukan klaim teritorial yang sudah lama diyakini terhadap bagian dari bekas negara si penjajah.

Namun, sejumlah pihak melihatnya dari sisi lain. Motivasi utama Argentina melancarkan perang ini adalah untuk mengalihkan ancaman terhadap rezim Jenderal Leopoldo Galtieri yang sedang mendapat tekanan dari berbagai penjuru karena dituduh melancarkan “perang kotor”, di mana 15.000 sampai 30.000 rakyat sipil Argentina dibunuh atau “hilang”, selain karena ekonomi buruk. Dengan adanya faktor terakhir, ide merebut kembali Kepulauan Malvinas yang terletak sekitar 500 km dari pantainya diperkirakan bisa menggalang dukungan kalangan nasionalis.

Tampak bahwa perang ini pecah akibat adanya salah hitung, baik di pihak Inggris maupun Argentina, ditambah adanya pengaruh AS. Argentina mengklaim bahwa AS mengisyaratkan pihaknya tidak akan ikut campur kalau Argentina mengkalim Kepulauan Malvinas. Oleh sebab itu, adanya bantuan AS ke Inggris dalam bentuk intelijen dan material dipandang sebagai wujud pengkhianatan terhadap Argentina dan warga Amerika Latin yang berharap bisa melihat adanya persatuan sesama warga hemisfer (Selatan) di pihak AS, atau sekurang-kurangnya sikap netral.

Argentina melihat peran AS kritikal dan menegaskan bahwa perang tidak akan pecah kalau saja Inggris tidak mendapat dukungan dari AS. Organisasi Negara-negara Amerika dan Amerika Latin pada dasarnya mendukung Argentina, tetapi pengaruh AS membuat anggota organisasi tak bisa mengambil langkah konkret. Pihak Inggris benar-benar mengharapkan bantuan AS untuk membebaskan warga Falkland dari cengkeraman rezim militer. Inggris juga mendapat dukungan dari masyarakat Eropa pada umumnya. Perancis, misalnya, mengembargo ekspor senjata ke Argentina, yang lalu secara drastis memangkas kemampuan militer Argentina.

3.1 Pelajaran Berharga

Tidak ada perang yang tidak meninggalkan korban dan kisah sedih, dan oleh karena itu sebisa mungkin memang perang harus dihindari. Untuk perang yang telah terjadi, sebagaimana Perang Malvinas/Falkland, dunia harus bisa menangkap pelajaran darinya. Ini diperlukan justru ketika dunia masih terus terperangkap dalam potensi konflik akibat perbedaan kepentingan antarbangsa yang sulit diselesaikan secara damai.

Di antara yang digugat oleh Perang di Atlantik Selatan ini adalah benarkah yang selalu terjadi adalah perang dipicu oleh serangan pihak yang “lebih kuat” terhadap “pihak lebih lemah”. Argentina, negara terpencil yang sejarahnya tidak mencatat adanya perang nyata semenjak pertengahan abad ke-19, ternyata berani menyerang negara yang lebih kuat, bahkan bersenjata nuklir lagi.

Argentina ternyata juga bisa menyerang Inggris, negara yang menjadi konsumen terbesar ekspor pertaniannya. Terus siapa yang menyangka bahwa Inggris, anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), akan berperang untuk mempertahankan kepulauan berbatu terpencil di Samudra Atlantik Selatan yang sebagian besar penghuninya penggembala biri-biri? Juga siapa yang mengira bahwa Inggris akan pergi berperang untuk mempertahankan sisa-sisa imperiumnya 37 tahun setelah Perang Dunia II? Yang juga baik, antara Argentina dan Inggris pun terjadi rekonsiliasi dan keduanya memulihkan hubungan diplomatik. Pada tahun 1995, kedua negara menandatangani sebuah kesepakatan untuk mempromosikan eksplorasi minyak dan gas di Atlantik Baratdaya, mencairkan isu yang sensitif sekaligus membuka peluang kerja sama lebih lanjut.

Meski telah lama berakhir, Pemerintah Inggris pada tahun 2005 menerbitkan sejarah resmi mengenai Perang Falkland. Tentu saja buku versi pemerintah Inggris ini membangkitkan kembali perdebatan mengenai apa sesungguhnya makna perang tersebut. Seperti dikutip di awal tulisan kesimpulan pertama, penulis Jorge Luis Borges menyebut perang tersebut sebagai “dua orang botak yang memperebutkan sisir“. Sementara dari Inggris dan juga banyak tempat lain tidak sedikit yang menyebut perang tersebut sebagai sikap imperialisme ketinggalan zaman.

Meski demikian, tulis William Pfaff di International Herald Tribune (2/10/2005), orang harus melihat satu sisi penting yang dulu maupun sekarang jarang dilihat orang, yakni Perang Malvinas/Falkland adalah perang untuk membela hukum internasional dan ketertiban antarbangsa. Dari segi aksi, tindakan junta militer Argentina, menurut Pfaff, bisa dibandingkan dengan invasi Saddam Hussein ke Kuwait tahun 1990. Pada kasus Kuwait, Amerika Serikat membentuk koalisi internasional yang dikukuhkan DK PBB untuk membebaskan Kuwait. Ini pun aksi untuk menciptakan ketertiban.

Lebih dari itu, dampak jatuhnya pemerintahan diktator di Argentina setelah kekalahan perang Falkland, juga berimbas ke bidang politik negara lain, yakni Cile dan Brasil. Di kedua negara ini rezim pun beralih ke pemerintahan demokratis. Pfaff mencoba melihat, mungkin saja Presiden George W Bush mencoba menerapkan Perang Irak untuk menciptakan demokratisasi di Timur Tengah. Namun, hasil yang dicapai, karena sejumlah alasan, ternyata beda jauh dari keinginan awal. AS justru dengan invasi ke Irak kini dikenal sebagai pencipta ketidaktertiban dan ketidakadilan, bukan pencipta ketertiban dan keadilan.

Seperti itulah bahwa setelah 25 tahun Perang Malvinas masih terus dikaji dampak dan pengaruhnya. Namun, satu hal yang menarik adalah komentar yang muncul di situs online Daily Telegraph London. Satu dari 196 komentar yang masuk mengatakan bahwa satu hari nanti, cepat atau lambat, Malvinas akan kembali ke kedaulatan Argentina. Ini hanya masalah waktu. Namun, jelas itu hanya pandangan dari satu sisi, yaitu dari warga Argentina. Dari sisi Inggris, muncul komentar “Falkland milik Inggris, sekarang dan selamanya!” Biarlah waktu terus berjalan dan sejarah masa depan yang akan memutuskan.

3.2 Kajian Perspektif Hukum Internasional

Frontiers are the chief anxiety of nearly every Foreign Office in the civilized world“, demikian tukas Lord Curzon dalam kuliahnya yang termasyhur di Universitas Oxford pada tahun 1907, genap seratus tahun yang silam. Pernyataan mantan Wakil Kerajaan Inggris yang menyelia lima komisi perbatasan di anak benua India sebelum menjadi Menteri Luar Negeri itu mengandung kebenaran profetis. Dua Perang Dunia yang berkecamuk sesudahnya tidak lepas dari ambisi teritorial sejumlah aktor penting percaturan politik dunia pada masa itu.

Konflik-konflik internasional paling serius dalam sejarah umat manusia seringkali berpangkal dari klaim wilayah yang tumpang tindih di sepanjang garis perbatasan. Penelitian empiris di kemudian hari bahkan menunjukkan bahwa dibandingkan isu lainnya, masalah perbatasan berpotensi dua kali lipat lebih besar untuk tereskalasi menjadi konflik bersenjata.

Di berbagai penjuru dunia, kontrol atas wilayah merupakan sesuatu yang diperebutkan tanpa ragu mengorbankan nyawa manusia. Kepulauan Falkland/Malvinas adalah salah satu saksi sejarah pertumpahan darah akibat perebutan wilayah. Peta dunia kontemporer seperti sekarang ini bukanlah sesuatu yang statis.

International Boundaries Research Unit (IBRU) di Universitas Durham mengidentifikasi bahwa dewasa ini masih terdapat berpuluh-puluh perbatasan darat dan laut serta klaim kedaulatan atas sejumlah pulau yang secara aktif dipersengketakan. Bahkan masih terdapat ratusan perbatasan maritim internasional yang belum disepakati oleh negara-negara yang berbatasan. Memang, banyak di antara pertentangan yang terjadi baru berlangsung di tataran diplomasi, namun tidak tertutup kemungkinan hal itu memburuk menjadi konflik yang berujung perang: “war starts where diplomacy ends“.

Sejarah dunia hanya mengenal tiga cara untuk mensahkan perbatasan antarnegara:  negosiasi, litigasi, atau kekuatan bersenjata. Dalam studi konflik internasional, dengan mudah terlihat bahwa sengketa wilayah masih merupakan sumber pertentangan yang paling potensial. Dengan demikian, masalah perbatasan antarnegara adalah suatu ancaman yang konstan bagi perdamaian dan keamanan internasional. Karena menyangkut kedaulatan yang seringkali sifatnya tidak dapat dinegosiasikan (non-negotiable), konflik teritorial tergolong pertentangan yang paling sulit dipecahkan.

Perbatasan internasional juga merupakan faktor penting dalam upaya identifikasi dan pelestarian kedaulatan nasional. Bahkan negara-negara bertetangga yang menikmati hubungan yang paling bersahabat pun perlu mengetahui secara persis lokasi perbatasan mereka guna menegakkan hukum dan peraturan masing-masing negara. Oleh karena itu, penetapan perbatasan antarnegara secara jelas tidak hanya dapat mengurangi resiko timbulnya konflik perbatasan di kemudian hari, tetapi juga dapat menjamin pelaksanaan hukum di masing-masing sisi perbatasan.

PETA KEPUALAN FALKLAND/MALVINAS



REFERENSI

http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Falkland

http://www.raf.mod.uk/falklands/battles.html

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0705/28/teropong/3559326.htm

http://www.gatra.com/2003-06-17/artikel.php?id=29317

http://www.ranesi.nl/eropa/eropa/25)thn_perang_malvinas070402

http://www.raf.mod.uk/falklands/preface.html

http://www.globalsecurity.org/military/world/war/malvinas.htm

http://majalah.tempointeraktif.com/id/cetak/1982/06/26/LN/mbm.19820626.LN46930.id.html

http://www.wikimu.com/news/displaynews.aspx?id=5875

http://www.hupelita.com/baca.php?id=14696

http://www2.irib.ir/worldservice/MelayuRadio/kal_sejarah/masehi/april/02april.htm
Ali M. Sungkar, Peran Strategis Deplu Dalam Menjaga Keutuhan NKRI, diakses dari http://ditpolkom.bappenas.go.id/?page=news&id=39

http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1999/05/27/0124.html

http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=Xg4GBVNVBVVf

http://www.kapanlagi.com/h/0000151104.html

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0706/14/lua06.html

About these ads

Tag: ,

14 Tanggapan to “Sengketa Kepulauan Falkland/Malvinas antara Inggris dan Argentina”

  1. crow poc Says:

    boleh saya copy g?? buat presentasi d skul…
    plizz… gw masih SMA..

    kunjungi balik blog gw…

  2. Rini Yusnita Says:

    Ass………….
    Aq copy, paste n edit ya makalahx! Trims atas materix.

  3. chiekhalz Says:

    makalahnya ok cuy tapi alangkah lebih baaiknya klao pake referency dari buku pasti tambah mantaaaaaab

  4. Indah Says:

    saya ambil ya tulisannya,, untuk bahan presentasi di sekolah,,, tx

  5. Adam Says:

    Sengketa kepulauan Falkland (sebagaimana Inggris menyebutnya) atau Malvinas (sebagaimana Spanyol menyebutnya) merupakan satu pelajaran bagi ahli sejarah, pemerhati hukum Internasional khususnya dan bangsa kita umumnya.

    Bagaimana sebuah konflik (kepemilikan wilyah/ tapal batas) yang tidak diselesaikan tanpa menyentuh akar permasalahan dan komprehensip, dapat terwarisi sampai ratusan tahun ke depan.

    Masalah sebenarnya bermula dari ‘claim’ dan koloni negara-negara penjajah Barat, seperti: Inggris, Spanyol, Prancis, Italy dan belanda. Karena merekalah terjadi perubahan peta wilayah sesebuah negara atau bangsa jadi berubah atau lenyap sama sekali dari peta bumi. Contoh bangsa yang tidak mempunyai wilayah (negara) seperti: Palestina, Kurdi, Aceh, Pattani dan lain sebagainya.

    Karena itu menjadi penting, kita melihat bagaimana sesebuah wilayah terintegarasi ke dalam satuan wilayah lain yang lebih luas. Atau bagaimana proses pembentukan/ kemerdekaan sesuah negara. Apakah sudah sesuai dengan hukum dekolonsasi PBB? Jika tidak, maka masalahlah yang akan timbul seperti apa yang kita lihat atau hadapi dewasa ini.

    Kometar saya, untuk tulisan anda, bagus! Dan kita perlu perbaikan di sana sini, karena itulah kita perlu belajar dan terus belajar tanpa henti, hingga liang lahat.
    Yang perlu diingat, Negara kita besar sekali potensi konfliknya!

  6. mylmie Says:

    saya copy paste ya makalahnya buat tugas sekolah, thanks

  7. clary Says:

    saya copy y… blh tdk?? buat tgs she,,,,, thx y..be_4 :-)

  8. clary Says:

    saya copy y… blh tdk?? buat tgs she,,,,, thx y..be_4 :-)
    plz blz y…

  9. clary Says:

    tolong coment balik y…. thx

  10. sori siregar Says:

    jadi penyelesaian sengketa ini bagaiamana ?? knpa gak ada penjelasannya secara rinci tentang cara penyelesaianya.

  11. Hanaa Says:

    sya mnta izin buat ngopy makalahnya ya. untuk tugas pkn.
    makasi sebelumnya.

  12. Panglima Perang Says:

    ty bro gua juga mau ngopy makalah kamu semoga mendapatkan pahala yg berlipat ganda dr allah swt ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,amin

  13. kangjengpangeran Says:

    keerennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: