Faktor-Faktor Kekalahan Golkar Pada Beberapa Pilkada

[Tugas Makalah Mata Kuliah: Masalah Pembangunan Politik]

PENDAHULUAN

Perjalanan sekitar 4 tahun pasca Pemilu 2004, Partai Golkar di mata publik ternyata belum dianggap sebagai parpol yang diharapkan menjadi kekuatan politik yang memihak pada kepentingan rakyat. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa  memperkecil peluang Partai Golkar dalam mempertahankan posisinya sebagai pemenang Pemilu Legislatif 2004.

Kekalahan demi kekalahan menghantam Golkar dalam berbagai pemilihan kepala daerah (pilkada). Kondisi ini mau tak mau membuat banyak pihak bertanya-tanya sekaligus mengambil kesempatan dengan melemahnya partai yang merupakan pemenang Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif 2004 ini. Golkar hanya mampu menang murni di Gorontalo dan Sulawesi Barat yang jumlah penduduknya relatif lebih sedikit. Bahkan Golkar harus rela calonnya kalah di seluruh provinsi di Pulau Kalimantan yang merupakan basis tradisional partai ini.

Secara umum posisi politik Partai Golkar (bersama parpol koalisinya) di DPR dapat diandalkan untuk mengamankan kebijakan pemerintah. Kekuatan politik Partai Golkar ini mampu mengeliminir gerakan oposisi PDIP di lembaga legislatif. Ironisnya, kinerja Partai Golkar di parlemen ini belum menjadi jaminan untuk mendapat simpati meluas di kalangan rakyat.

Kekalahan terakhir Golkar dalam Pilkada Gubernur Jawa Tengah (Jateng) membuat semua pengurus Golkar menjadi miris. Beberapa kemenangan lain tidak bisa diklaim sebagai kemenangan Golkar karena umumnya diraih dalam bentuk dukungan terhadap koalisi, terutama dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Misalnya saja di DKI Jakarta, Kepulauan Riau, dan Banten. Memang, figur yang maju itu adalah figur dari Golkar yang sudah tak asing. Seperti Fauzi Bowo, Ismet Abdullah, dan Ratu Atut Chosiyah. Di Jambi juga Golkar hanya mengirimkan wakil gubernur dan mendukung gubernur yang diusung Partai Amanat Nasional (PAN). Namun tetap saja kemenangan dalam koalisi banyak partai seperti itu tak bisa diklaim sebagai keberhasilan Golkar semata-mata. Partai Golkar kini mesti berhati-hati menghadapi Pemilihan Umum 2009. Ini mengingat calon gubernur yang diusung partai berlambang pohon beringin di sejumlah daerah harus menuai kekalahan. Padahal posisi kepala daerah sangat penting bagi partai politik untuk mendulang suara di pemilihan umum mendatang.

Semua bermula dari Sulawesi Selatan. Karena di daerah kelahiran Wakil Presiden yang notabene Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla, partai pemenang Pemilu Legislatif 2004 menghadapi kekalahan yang femonenal pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sulsel, 5 November 2007. Pasangan Amin Syam-Mansyur Ramli yang disokong Golkar harus mengakui keunggulan kendidat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu`mang. Kendati sempat terjadi sengketa hingga ke Mahkamah Agung, namun pada akhirnya Partai Golkar harus mengakui kekalahan.

Sekali lagi, bekas mesin politik rezim Orde Baru ini menelan pil pahit pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Barat, 13 April silam. Calon dari Partai Golkar, Danny Setiawan-Iwan Sulanjana (DAI) dikalahkan calon koalisi Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Amanat Nasional, Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (HADE). Bahkan, Danny Setiawan yang saat pemilihan masih menjabat Gubernur Jawa Barat menempati posisi juru kunci daftar perolehan suara.

Duet Ali Umri-Maratua Simanjuntak yang didukung Partai Golkar di Pilkada Sumatra Utara bertekuk lutut di bawah pasangan Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho. Kandidat Golkar ini kalah pada pemilihan 16 April silam karena massa di tingkat bawah terpecah suaranya. Syamsul adalah kader Golkar yang mencalonkan diri melalui PKS. Sedangkan Ketua Dewan Penasihat Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Sumatra Utara sekaligus Ketua DPRD setempat, Abdul Wahab Dalimunthe, ikut pencalonan melalui koalisi Partai Demokrat, Partai Bintang Reformasi, dan PAN. Kekalahan yang datang bertubi-tubi dalam berbagai gelaran pilkada tersebut menjadi lonceng yang memperingatkan partai yang sudah dewasa ini untuk memperbaiki diri. Golkar harus mengambil pelajaran dari kekalahan ini untuk pilkada gubernur yang akan datang dan juga untuk bersiap menghadapi pemilu legislatif pada 2009.

Bahkan, Presiden PKS (Partai Keadilan Sejahtera) Tifatul Sembiring mengatakan, kemenangan partainya dalam Pilkada Jawa Barat dan Sumatera Utara menunjukkan perubahan paradigma kepemimpinan masyarakat Indonesia. Dua pulau terbesar di Jawa dan Sumatra ini, mampu merubah paradigma strategi mesin politik partai-partai lama yang selama ini berkuasa. “Hasil pilkada masyarakat propinsi terbesar di Sumatra dan Jawa, yakni di Sumut dan Jabar terbesar di Jawa, menandakan masyarakat menginginkan adanya perubahan. Artinya grand old party menawarkan calon muda yang mampu menjadi pemimpin,” ujar Presiden PKS Tifatul Sembiring. Kemenangan calon gubernur dari PKS di Jabar, yakni Achmad Heryawan dan Dede Yusuf (Hade) dan Cagub Sumut Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Broto menjadi salah satu tolok ukur kerinduan masyarakat terhadap pemimpin muda. (kompas.com)

  1. PILKADA JAWA BARAT

Pilkada Jawa Barat dilaksanakan pada tanggal 13 April 2008 dengan 3 pasangan calon Pilkada. Calon nomor urut pertama adalah Dany Setiawan dan Iwan R. Sulandjana (DAI). Calon pasangan urut nomor kedua adalah Agum Gumelar dan Nu’man Abdulhakim (AMAN) dan calon pasangan nomor urut ketiga yaitu Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf (HADE).

Nomor Urut

Pasangan Calon

Partai Politik Pengusung

1

H. Dany Setiawan dan Mayjen TNI (Purn)Iwan Sulandjana

Golkar dan Partai Demokrat

2

Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar
dan
Drs. Nu`man Abdul Hakim

PDIP, PPP, PKB, PBB, PKPB, PDS dan PBR

3

H. Ahmad Heryawan
dan
H. Dede Yusuf

PKS dan PAN

Sumber: http://www.kpu.jabarprov.go.id

Dari hasil pergelaran Pilkada tersebut, pasangan nomor urut ketiga Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf memenangi jumlah suara terbanyak. Pasangan HADE meraih 39,29% (5.238.449 suara) sedangkan pasangan Agum Gumelar dan Nu’man Abdul Hakim (AMAN) meraih 35,13% (4.682.861 suara) serta pasangan Dany Setiawan dan Iwan Sulandjana (DAI) yang didukung partai Golkar meraih suara terkecil yakni 25,58% (3.410.544 suara).

Kemenangan pasangan HADE mengejutkan banyak pihak. Hal ini disebabkan hasil survey sejumlah lembaga survey seperti LSI (Lingkaran Survey Indonesia), LSI (Lembaga Survey Indonesia) menempatkan pasangan DAI sebagai pasangan teratas untuk memenangkan Pilkada Jawa Barat. Kekalahan pasangan yang diusung Golkar ini menurut penulis disebabkan beberapa faktor yang disaring dari berbagai Suratkabar, TV(Televisi) dan media lainnya.

Faktor-Faktor Kekalahan

  1. Rakyat Ingin Perubahan

Kekalahan pasangan DAI yang diusung partai Golkar disebabkan rakyat Jawa Barat menginginkan perubahan terhadap kondisi Jawa Barat itu sendiri secara khusus dan Nasional secara umumnya. Rakyat telah lelah dan jenuh dengan kondisi yang ada dimana Dany Setiawan selaku Incumbent (Pemimpin Daerah saat itu) tidak menjalankan amanat rakyat seperti yang diinginkan masyarakat. Rakyat sudah merasakan bagaimana dipimpin oleh Dany Setiawan selama 4 tahun belakangan ini, dan hal itu cukup dirasakan. Dan dengan adanya Pilkada ini rakyat berpaling dengan memilih calon pasangan yang mempunyai visi dan misi yang membawa perubahan terhadap daerah Jawa Barat.

Pengamat politik dari Reform Institute, Yuddy Latief menyatakan kekalahan pasangan Golkar ini juga disebabkan status Incumbent yang melekat pada Dany Setiawan. “Di sisi lain, ada semangat anti-incumbent di masyarakat menghadapi keadaan hidup yang semakin sulit. Incumbent menjadi kambing hitam meroketnya harga-harga,” paparnya. “Nah, incumbent kemudian menjadi kambing hitam. Ada pelarian dari voters untuk memilih figur lain yang lebih fresh. Sebetulnya, semua calon di Jawa Barat kualitasnya sama. HADE (Ahmad Heryawan-Dede Yusuf) sebetulnya figur yang tidak terlalu menjanjikan. Cuma saja, masyarakat memberikan kesempatan kepada yang baru (HADE) sehingga melarikan diri dari  dua pasang calon lainnya (Danny Setiawan dan Agum Gumelar),” tambah Wakil Rektor Universitas Paramadina ini. (okezone.com, 18 april 2008). Rakyat kian jeli untuk memilih calon dan dibarengi membaca kondisi kehidupan nasional sekarang ini.

Rakyat sudah bosan dengan kemelaratan yang tak berujung. Khalayak sudah jenuh dengan impitan ekonomi yang seolah tak berakhir. Masyarakat sudah lelah menunggu realisasi janji yang diumbar saat kampanye. Yang ditunggu adalah perbaikan kehidupan. Jika parpol besar (termasuk Golkar) tidak bisa lagi memberi harapan, jika incumbent tidak mampu berbuat apa-apa, rakyat tentu berpaling kepada pemimpin baru. Tidak peduli parpol mana yang mengusung. Dalam kemelaratan, dalam kemiskinan, rakyat tidak memedulikan bendera partai. Tidak butuh ideologi partai. Yang dicari adalah pemimpin yang bisa memberi harapan dan mengubahnya menjadi kenyataan.

  1. Mesin Politik Partai Tidak Bekerja Secara Maksimal

Mesin politik partai Golkar yang tidak bekerja secara maksimal juga menjadi faktor krusial terhadap kekalahan pasangan yang mereka usung. Mengenai hal itu, Manager Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menilai hal tersebut tak lepas dari lemahnya militansi kader partai berlambang pohon beringin tersebut. “…disamping figur, militansi kader partai politik juga sangat penting. Tanpa militansi, figur yang populer pun dapat keropos. Kelemahan Golkar adalah hilangnya militansi partai untuk menjaga dan meningkatkan dukungan atas calon Golkar,” ujarnya. (berpolitik.com, 16 april 2008)

Pada saat akan Pilkada akan dilaksanakan beberapa hari lagi, kader-kader serta partisan Golkar tidak bekerja secara militan dan giat untuk mengarahkan pemilih memilih pasangan Dany Setiawan-Iwan Sulandjana (DAI). Sedangkan pasangan lain, terutama pasangan HADE aktif bekerja serta roda mesin politiknya bergulir secara kesinambungan sehingga pasangan yang didukung PKS dan PAN tersebut meraih suara secara maksimal.

  1. Figur Calon

Figur yang menjadi calon kepala daerah juga sangat menentukan dalam sebuah pelaksanaan Pilkada. Pada Pilkada Jawa Barat ini, figur Dany Setiawan tidak populer di mata masyarakat disebabkan masyarakat telah merasakan kondisi kehidupannya selama dipimpin Dany Setiawan (sebelum pelaksanaan Pilkada, Dany Setiawan menjabat Gubernur Jawa Barat). Sehingga menyebabkan masyarakat lebih memilih figur yang baru yang lebih menjanjikan. Namun, dalam hal ini kesalahan juga dapat diarahkan kepada partai Golkar karena tidak jeli membaca perubahan kondisional pemilih dalam Pilkada. Pada penyelenggaraan Pilkada sangat berbeda dengan Pemilihan Umum (Pemilu) baik legislatif maupun Pilpres (Pemilihan Presiden).

Jumlah peserta pilkada yang hanya tiga pasang, dan dua pasangan diantaranya terdapat calon incumbent menyebabkan Pasangan gubernur lama (Danny Setiawan – Nu’man Hakim) pecah dan maju sendiri-sendiri. Sehingga, popularitas keduanya memiliki potensi perpecahan pula. Popularitas Danny-Nu’man yang mestinya diatas angin menjadi pudar akibat mereka tidak bersatu maju dalam satu paket pasangan calon.

Kondisi tersebut dengan mudah dapat dimanfaatkan pasangan cagub ketiga (HADE) meski pun pasangan terakhir ini mula-mula dianggap sebagai “kuda hitam”. Peluang “kuda hitam” makin menguat karena dibarengi popularitas cawagub Dede Yusuf sebagai artis kondang. Dimata publik Dede Yusuf lebih populer karena aktifitasnya sebagai artis. (kompas.com, 17 april 2008)

Rakyat telah bosan dengan calon-calon yang wajahnya sudah familiar bagi mereka. Rakyat berkeinginan calon yang diusung dalam Pilkada adalah wajah-wajah baru yang lebih muda dan bersemangatkan jiwa muda. Pada pilkada, sebagian besar rakyat memilih bukan karena faktor calon tersebut didukung oleh Partai. Namun, kepopuleran dan figur calon juga berpengaruh terhadap hasil pemilihan. Kemenangan dalam pemilihan kepala daerah, juga bergantung pada ketokohan calon yang diusung. Jika calon yang diusung memiliki karisma dan diakui ketokohannya, maka kemungkinan menang akan sangat besar karena disukai dan diinginkan masyarakat.

  1. Sistem Pencalonan Kepala Daerah

Partai Golkar pada masa kepemimpinan Akbar Tandjung aturan pengurus struktural menyebutkan bahwa ketua DPD (Dewan Pimpinan Daerah) lebih berhak untuk mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Dan, hal itu disalah artikan pada masa sekarang dimana banyaknya ketua DPD Golkar yang ngotot mencalonkan diri menjadi kepala daerah tanpa memeperhatikan aspek lain sehingga menyebabkan kekalahan dalam pilkada.

Hal ini dibenarkan oleh Ketua Pelaksana Harian Badan Pemenangan Pemilu Partai Golkar,
Firman Subagyo. Banyak ketua DPD yang nekat mencalonkan diri karena secara politis merasa yang lebih berhak, padahal popularitasnya rendah (detik.com, 20 april 2008)” ujarnya. Firman yang juga Ketua Bidang Kesejahteraan Rakyat DPP Partai Golkar menyatakan selama ini DPP menjunjung tinggi demokrasi dalam penentuan calon pilkada dengan menyerahkan keputusan suara terbesar di tangan DPD. Namun dalam kenyataannya daerah menerjamahkan secara salah.

Daerah cenderung mengedepankan ikatan emosional dengan mengedepankan ketua DPD sendiri, tanpa mempertimbangkan aspek popularitas dan tingkat electable. Golkar sendiri, tutur Firman sebenarnya memberi peluang sebesar-besarnya bagi calon di luar pengurus DPD untuk maju dalam pilkada jika popularitasnya memang tinggi dan electable. Namun, dalam kenyataanya ketua DPD merasa yang paling berhak.

  1. PILKADA SUMATRA UTARA

Pilkada Sumatra Utara atau yang biasa disingkat Sumut diselenggarakan pada tanggal 16 April 2008 (tiga hari setelah pelaksanaan Pilkada Jawa Barat). Pilkada ini diikuti oleh 5 pasangan calon. Yaitu;

No. Urut

Pasangan Calon

Partai Politik Pengusung

1

H. M. ALI UMRI, SH, M. Kn dan DR. HAJI MARATUA SIMANJUNTAK

Golkar

2

MAYJEN (PUR) TRITAMTOMO, SH

dan DR. Ir. BENNY PASARIBU, M. Ec

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)

3

Ir. RE. SIAHAAN dan H. SUHERDI

PDS, PKB, PBSD, PPD, PIB, PNI Marhaenisme, PNBK dan Partai Pelopor

4

H. ABDUL WAHAB DALIMUNTHE, SH dan H. M. SYAFII, SH. M. Hum


Partai Demokrat, PBR, dan PAN

5

H. SYAMSUL ARIFIN, SE dan GATOT PUJO NUGROHO, ST

PPP, PKS, PBB, PPNUI, PPDI, Partai Patriot Pancasila , PKPI, PSI, PKPB, PDK dan Partai Merdeka

Sumber: http://www.kpusumut.org

Berdasarkan rilis resmi Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sumatra Utara, pasangan nomor urut lima Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho (SYAMPURNO) meraih suara terbanyak dengan 1,396,892 suara (28,31%). Disusul pasangan nomor urut kedua Tritamtomo dan Benny Pasaribu dengan 1,070,303 (21,69%). Pasangan nomor urut keempat Abdul Wahab dan M. Syafii di tempat ketiga dengan perolehan 858.528 suara (17,40%). Kemudian pasangan nomor urut ketiga RE Siahaan dan Suherdi memperoleh suara 818.171 (16,58%). Serta pasangan nomor urut pertama Ali Umri dan Maratua Simanjuntak (pasangan yang diusung partai Golkar) menempati perolehan jumlah suara paling sedikit dengan 789.793 suara (16,01%)

Hasil Pilkada ini kembali mengejutkan banyak pihak dengan kekalahan pasangan yang diusung partai Golkar yakni Ali Umri dan Maratua Simanjuntak. Pasangan yang diusung PKS dan PPP serta partai kecil lainnya memenangi Pilkada ini dengan meraih 28,31 % suara. Dalam jangka waktu 3 hari pasangan yang diusung PKS memenangi dua Pilkada gubernur yang notabene adalah termasuk daerah kemenangan Golkar pada Pemilu 2004. Golkar kembali harus menghadapi kenyataan pasangan yang mereka usung kalah di daerah yang secara kasat mata adalah basis partai. Sumatra Utara adalah salah satu basis terbesar Golkar disumatra (diluar pulau Jawa) yang memiliki jumlah penduduk terbanyak.

Faktor-Faktor Kekalahan

  1. Kekuatan Partai Golkar Terpecah

Dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di Sumut ini kekuatan Partai Golkar terpecah disebabkan ada tiga kadernya yang mencalonkan diri, yakni Ali Umri, Abdul Wahab Dalimunthe, dan Syamsul Arifin. Kondisi tersebut mengakibatkan suara dari partai Golkar itu sendiri tidak bersatu dan fleksibel. Abdul Wahab Dalimunthe (Ketua DPRD Sumut yang juga mantan Ketua Partai Golkar Sumut) mencalonkan diri menjadi Gubernur dari Partai Demokrat, sedangkan Syamsul Arifin berpindah ke PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Eksistensi partai Golkar layak dipertanyakan disebabkan tampilnya tiga kader eks Partai Golkar sebagai calon gubernur meski untuk maju mereka harus menyewa “perahu” lain dan bahkan diberhentikan sebagai anggota Partai Golkar.

Dengan kondisi tersebut, mesin politik partai juga tidak bekerja secara militan dan maksimal yang diakibatkan efek perpecahan kekuatan dalam partai Golkar itu sendiri. Menurut Akbar Tanjung militansi partai yang lemah dan koordinasi lamban antara DPD (Dewan Pimpinan Daerah) dan DPP (Dewan Pimpinan Pusat) didalam partai Golkar mengakibatkan kekalahan pada pasangan Ali Umri-Maratua Simanjuntak. (www.bangakbar.com)

  1. Sistem Pencalonan Kepala Daerah

Sistem Pencalonan Kepala Daerah yang masih mengikuti aturan terdahulu sangat berpengaruh terhadap kekalahan calon pasangan dari Golkar di pilkada Sumut ini. Akibat Ali Umri memaksakan kehendak untuk maju dalam pemilihan Gubernur Sumut menyebabkan kader Golkar lain yang ingin maju untuk Pilkada memilih pindah ke Partai lain dengan perimbangan dapat mengikuti Pilkada. Kader Golkar lain yang dimaksud adalah Abdul Wahab Dalimunthe (Partai Demokrat) dan Syamsul Arifin (PKS/Partai Keadilan Sejahtera). Hal ini menunjukkan kepengurusan partai yang tidak solid menyebabkan perpecahan dalam partai Golkar itu sendiri. Dengan kondisi demikian menyebabkan organisasi dan infrastruktur tidak berjalan sebagaimana diinginkan.

  1. Figur Calon Kepala Daerah

Figur calon yang diusung dalam Pilkada, kembali merupakan salah satu hal faktor yang krusial. Pada Pilkada sumut ini, figur yang diusung partai Golkar belum mendapat simpati dari rakyat karena rakyat membutuhkan figur yang dekat dan perhatian pada rakyat. Disamping itu juga popularitas Ali Umri yang belum dikenal masyarakat secara keseluruhan.

Menurut pakar komunikasi dari Universitas Sumatera Utara Hendra Harahap, bahasa dan ungkapan populer yang digunakan Syamsul saat acara pentas kandidat di hari terakhir kampanye, lebih mudah dicerna mayoritas pemilih dalam pilkada Sumut. Bahasa-bahasa populer yang merakyat ini dipakai 80 persen pemilih, sementara calon gubernur lain lebih sering menggunakan bahasa baku dan normatif yang biasa dipakai pemilih berpendidikan menengah ke atas yang jumlahnya 20 persen. “Tidak ada bahasa ilmiah yang digunakan Syamsul saat acara debat kandidat,” ujar Hendra. (waspada.go.id, 18 april 2008)

Komunikasi politik dengan bahasa yang populer serta kedekatan Syamsul Arifin dengan rakyat, menjadi kunci keunggulan Bupati Langkat ini dalam pemilihan gubernur Sumatera Utara, dibanding empat calon gubernur lainnya. Syamsul dinilai tak pernah menggunakan bahasa yang formal dalam berkomunikasi dengan pemilih yang mayoritas belum mengenyam pendidikan tinggi. Berbeda dengan Ali Umri yang lebih menggunakan bahasa formal pada saat penyampaian visi dan misi serta pada saat kampanye.

  1. PILKADA JAWA TENGAH

Pilkada Gubernur dan wakil gubernur Jawa Tengah dilaksanakan pada tanggal 22 juni 2008. Pilkada ini diikuti oleh lima pasangan calon, yaitu;

Nomor Urut

Pasangan Calon

Partai pengusung

1

H. Bambang Sadono S.H, MH dan Drs. H. Muhammad Adnan, MA.

Golkar

2

H. Agus Soeyitno dan Drs. Abdul Kholiq Arief, M.Si

PKB

3

H. Sukawi Sutarip SE. SH dan DR. Sudharto, MA

Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera

4

H. Bibit Waluyo dan Dra. Hj. Rustriningsih, M.Si

PDIP

5

Ir. H. Muhammad Tanzil, MT dan Drs. H. Abdul Rozak Rais, MM

PPP dan PAN

Sumber: http://www.metrotvnews.com/

Pada Pilkada ini, lagi-lagi calon pasangan gubernur dan wakil gubernur yang di usung partai Golkar mengalami kekalahan. Pasangan Bibit Waluyo dan Rustriningsih memenangkan pilkada ini. Walaupun KPUD Jawa Tengah belum merilis secara resmi pengumuman jumlah suara total, namun hasil dari perhitungan cepat (quick count) lembaga-lembaga survey seperti LSI (Lingkaran Survey Indonesia, LSI (Lembaga Survey Indonesia) dan Puskaptis (Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis) serta quick count MetroTV (media pertelevisian swasta di indonesia) menempatkan pasangan yang di usung PDIP (Bibit waluyo-Rustriningsih) memenangkan pilkada Jawa Tengah dengan perolehan suara 42% .

Pasangan Bambang Sadono dan Muhammad Adnan menempati peringkat kedua perolehan suara terbanyak (22 %). Pasangan Sukawi dan Sudharto meraih 15% suara. Pasangan Muhammad Tamzil-Abdul Rozaq memperoleh 12% suara. Serta pasangan yang di usung PKB (Agus Soeyitno-Abdul Kholik) menempati raihan suara terkecil dengan perolehan 7% suara. Hasil ini, mengejutkan banyak pihak dan menimbulkan fenomena.

Fenomena yang pertama adalah tingginya persentase Golput (Golongan Putih), bahkan jumlah persentasenya mengalahkan perolehan suara pemenang Pilkada Jateng ini. Golput pada pilkada Jawa Tengah mencapai 46% dari jumlah pemilih, sedangkan pasangan Bibit-rustriningsih hanya memperoleh 42%. Fenomena kedua adalah pasangan yang di usung Golkar (Bambang-M. Adnan) tertinggal jauh dalam perolehan suara dari pasangan Bibit-Rustriningsih. Walaupun pasangan ini menempati peringkat kedua raihan suara terbanyak, namun kondisi ini tidak berkorelasi dengan hasil perkiraan banyak pihak sebelum Pilkada dilaksanakan.

Faktor-Faktor Kekalahan

  1. Mesin Politik Partai Tidak bekerja Secara Maksimal

Mesin politik Golkar tidak berkeja secara penuh militansi dan maksimal, sehingga menyebabkan kekalahan pasangan yang mereka usung dalam Pilkada Jawa Tengah. Partai Golkar terus menunjukkan pertengkaran politik dengan pemerintah, buah dari dualisme sikap untuk mendukung atau menolak pemerintahan ini PDIP lebih memiliki kesiapan mental, mesin politik, jaringan, serta kemampuan logistik. Apabila Partai Golkar tidak mampu melakukan konsolidasi internal, bisa diperkirakan lumbung-lumbung suaranya akan dengan mudah digerogoti oleh PDIP atau parpol menengah seperti PKS. Kader Golkar juga dinilai kurang militan. Hal ini salah satu sebab partai tersebut berturut-turut mengalami kekalahan di sejumlah pilkada. Berbeda dengan apa yang dilakukan kader PDIP, mesin politik PDIP terlihat sangat militan. Mereka mampu menggerakkan massa beberapa hari sebelum pemungutan suara digelar.

  1. Figur Calon

Struktur dan kultur masyarakat Jawa Tengah berperan dalam menentukan kekalahan Bambang-M.Adnan. Kemudian menghasilkan kemenangan bagi pasangan bibit-rustri. Dan inilah yang membedakan daerah ini dengan daerah lain seperti Jawa Barat. Baik menyangkut landasan ideologis atau pun perilaku yang lebih bisa dikatakan konservatif. Maka muncul kekhasan seperti masih menangnya figur purnawirawan militer dan sebagainya. Figur cawagub Rustriningsih juga berperan besar dalam mendulang suara. Selain faktor kepekaan gender, Rustri dikenal sebagai birokrat yang cerdas, bersih dan terbuka sehingga berhasil memimpin Kabupaten Kebumen. Wajar bila di sana perolehan suara pasangan ini mencapai hampir 70 persen.

Menurut Peneliti Undip, Teguh Yuwono, konservatisme politik Jawa Tengah semakin kokoh dikuasai oleh golongan aliran politik nasionalis melalui PDI-P.  Walaupun Partai Golkar dan Partai Demokrat merupakan dua partai dengan aliran politik yang sama, yaitu aliran nasionalis tetapi dukungan politiknya tidak sebesar yang dimiliki oleh PDIP.(www.okezone.com)

Sekjen DPP Partai Golkar Sumarsono mengatakan, kekalahan Bambang Sadono-M Adnan disebabkan oleh figur. Faktor lainnya adalah kurang optimalnya penggalangan dan pemenangan mesin partai. Dia mengatakan bahwa faktor figur sangat menentukan dalam pilkada. Bahkan, 50 hingga 60 persen kemenangan ditentukan oleh figur. Sementara, mesin partai hanya 10-15 persen. Sumarsono mengakui, meski awalnya hasil survei Bambang-Adnan cukup tinggi, kehadiran Rustriningsih yang digandeng oleh Bibit Waluyo langsung membuat hasil survei berubah. Faktor tersebut ditambah fakta bahwa Jateng menjadi basis partai berlambang banteng bermoncong putih.(www.suaramerdeka.com)

  1. Tingginya Persentase Pemilih Golput

Angka persentase Golput yang mencapai 45% juga merupakan salah satu faktor sedikitnya pencapaian suara calon pasangan Bambang Sadono-Muhammad Adnan. Bambang Sadono berserta Team Sukses nya gagal mengarahkan pemilih agar tidak melakukan Golput dan minimal mencoblos pada hari pencoblosan.

PENUTUP

Kekalahan Partai Golkar dalam pemilihan Gubernur Jawa Tengah menambah panjang daftar kekalahan partai pemenang Pemilu 2004 itu dalam Pilkada yang digelar di tanah air. Sebelum Jawa Tengah, kalah di Jawa Barat, Sumatera Utara, NTT, Papua, Papua Barat, Sulawesi Selatan dan masih banyak lagi. Meskipun menurut Ketua Umum Jusuf Kalla secara nasional untuk Pilkada kota/kabupaten jumlah kemenangannya masih sekitar 42 persen dan berada di peringkat teratas.

Untuk pemilihan gubernur memang di bawah 30 persen. Inilah yang oleh kalangan pengamat politik disebut sebagai peringatan bagi partai itu. Kekalahan itu menyebabkan tahun ini, dalam pilkada gubernur, belum ada satupun calon yang diusung Golkar memenangi Pilkada gubernur.  Padahal posisi kepala daerah atau gubernur sangat penting bagi partai politik untuk mendulang suara di pemilihan umum mendatang.

Kekalahan beruntun sejumlah kader Partai Golkar di Pilkada gubernur dan wakil gubernur masih meninggalkan tanda tanya. Tak ayal lagi, kekalahan beruntun di pilkada tingkat I itu menyulut polemik di tubuh pohon beringin. Bahkan, sejumlah kadernya dengan berani menuntut pertanggungjawaban pengurus pusat. Mereka sampai meminta digelarnya Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) mempertanyakan mesin politik partai yang tak berjalan lancar untuk menyokong kader-kadernya di ajang Pilkada.

KESIMPULAN

Kekalahan calon dari Partai Golkar dalam beberapa pemilihan kepala daerah di beberapa provinsi terjadi akibat tidak berjalannya mesin politik yang mereka miliki. Kondisi ini terjadi akibat buruknya komunikasi di antara elite Partai Golkar dan munculnya ketidakpercayaan atas kepemimpinan di tingkat daerah, inilah cerminan partai Golkar saat ini.

Dengan keadaan ini  beban politik Partai Golkar akan lebih berat saat menghadapi Pemilu 2009. Kekalahan-kekalahan di Pilkada provinsi itu seolah menjadi penanda, telah terjadi krisis kepemimpinan dan ketidakpercayaan kepada pengurus daerah Partai Golkar. Mutlak Partai Golkar harus senantiasa membenahi diri. Kiranya  dengan adanya rencana mengganti para pengurus daerah yang selalu mementingkan ego strukturalnya, Golkar sepertinya mempunyai political will dan niat baik untuk memperbaiki kelemahannya sekaligus merespon kemauan banyak kadernya.  Meskipun langkah Golkar ini mengganti para pengurus di daerah terkesan lamban dan baru ‘sadar’ kepemimpinan internal daerah partai adalah sumber kelemahannya selama ini tetapi minimal Golkar sudah memainkan mekanisme organisasi dengan jelas dan sesuai alurnya. Artinya, pergantian pengurus daerah yang gagal dalam memenangkan pilkada sudah menjadi sesuatu yang mutlak yang harus dilakukan oleh DPP, sebagai bagian integral dari upaya partai menyongsong pemilu 2009.

About these ads

Tag:

Satu Tanggapan to “Faktor-Faktor Kekalahan Golkar Pada Beberapa Pilkada”

  1. dir88gun2 Says:

    assalamu alaikum wr. wb.

    alhamdulilah…
    Selamat akhirnya golput berhasil memenangkan jumlah suara terbanyak!
    Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung Partai Golput,
    baik yang dengan penuh kesadaran dan keikhlasan maupun yang tidak.
    Lho, maksudnya? Gak Jelas? :|

    Sudah saatnya kita ganti sistem!
    Sistem yang lebih “pro rakyat” dan lebih “berbudi”…
    Ayo kita ganti secepatnya, “lebih cepat lebih baik”…
    Mari kita “lanjutkan” perjuangan dakwah untuk menegakkannya!
    Sistem Islam, petunjuk dari Sang Maha Pencipta!

    Lihatlah dengan hati dan fikiran yang jernih!
    Aturan Sang Maha Pencipta diinjak-injak
    dan diganti dengan aturan yang dibuat seenak udelnya!
    Dan lihat akibatnya saat ini, telah nampak kerusakan
    yang ditimbulkan oleh sistem sekulerisme dan turunannya
    (seperti: kapitalisme, sosialisme, demokrasi, dsb) di depan mata kita!

    Banyak anak terlantar gara2 putus sekolah.
    Banyak warga sekarat gara2 sulit berobat.
    Banyak orang lupa gara2 ngejar2 dunia.
    Dan banyak lagi masalah yang terjadi gara2 manusia nurutin hawa nafsunya.

    Lihat saja buktinya di

    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/05/12/kemungkaran-marak-akibat-syariah-tidak-tegak/

    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alwaie/

    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alislam/

    dan banyak lagi bukti nyata yang ada di sekitar kita!

    Untuk itu, sekali lagi saya mohon kepada semua pihak
    agar segera sadar akan kondisi yang sekarang ini…
    dan berkenan untuk membantu perjuangan kami
    dalam membentuk masyarakat dan negeri yang lebih baik,
    untuk menghancurkan semua bentuk penjajahan dan perbudakan
    yang dilakukan oleh manusia (makhluk),
    dan membebaskan rakyat untuk mengabdi hanya kepada Sang Maha Pencipta.

    Mari kita bangkit untuk menerapkan Islam!
    mulai dari diri sendiri.
    mulai dari yang sederhana.
    dan mulai dari sekarang.

    Islam akan tetap berlaku hingga akhir masa!
    Dan Islam akan menerangi dunia dengan cahaya kemenangan!
    Mohon maaf apabila ada perkataan yang kurang berkenan (-_-)
    terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.

    wassalamu alaikum wr. wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: